Wednesday, April 26, 2006

Larasati

Today's on It's Me...


Namanya Larasati. Asli sukabumi. Masih muda, mungkin sekitar 25-an. Namun wajah dan sikap tubuhnya memperlihatkan sosok yang sangat matang penuh kedewasaan. Tingginya sedang-sedang saja. Fisiknya yang memiliki proporsi mendekati sempurna, semakin lengkap dibalut kulitnya yang berwarna kuning langsat. Sangat asli Indonesia. Sekilas saja aku bisa melihat betapa wanita ini memang sangat merawat tubuhnya.

Ahh, rasanya aku harus segera menundukkan dan mengalihkan pandanganku dari sosoknya.

Namun tak urung telingaku masih mampu mendengarkan sebentuk pesona yang lain. Suaranya! Barangkali tak berlebihan kalau aku sebut suara seperti itu dengan satu kata sederhana.. Merdu!! Tawanya yang sumringah, sesekali melengkapi tutur katanya yang teratur rapi.

Sesekali aku tengadah, berusaha mempertemukan pandangan dan memberinya kesan aku memberi perhatian padanya. Sesekali, karena pesonanya terlalu kuat untukku menatapnya berlama-lama.

Larasati memang teman yang menyenangkan. Dalam sekejap, ia menarikku kedalam alur percakapan yang begitu menyenangkan. Tak ada keborosan dalam kata-katanya. Semuanya seperti bermakna, meski singkat.

Dan ia bercerita tentang waktu-waktu yang telah dilalui, yang menjadikannya dewasa lebih cepat dari pada usianya. Tentang keadaan ekonomi keluarganya yang membuat ia harus ke Jakarta. Kedua orang tuanya masih tinggal di Sukabumi, hidup sangat sederhana di sebuah perkampungan yang sayangnya ia tak mau menyebutkan dimana. Sambil bercerita, matanya menatap selembar tissue yang ia mainkan sejak tadi. Pandangannya seperti jauh menembus lembar-lembar tissue tersebut, jauh menerobos meja kaca tempat kami duduk, bahkan jauh menerawang ke suatu tempat yang tidak terjangkau oleh mataku.

"Orang tuaku buruh petani, mas. Maklum, deh! Namanya orang jaman dulu, mereka nggak bisa apa-apa. Makanya aku buru-buru kerja selepas SMP. Di 'Rudy' aku udah jalan kurang lebih sekitar 2 tahun."

Lalu ia mengisahkan kegalauannya tentang pandangan orang yang sedikit miring terhadap profesinya, sebagai seorang stylist di salah satu outlet salon terkenal di Jakarta. Sudah beberapa kali ia menerima ajakan dari laki-laki, ajakan yang bisa ia rasakan bertendensi negatif, mengabaikan kenyataan bahwa hakekatnya ia adalah seorang Stylist. Ajakan yang mau tidak mau harus ia tolak dengan tetap mengembangkan senyum sambil menyelesaikan tugasnya merapikan rambut pelanggannya tersebut.

"Capek, Ram. Ngadepin mereka yang kayak gitu. Aku kerja bener mereka nyangkanya yang nggak-nggak."

"Ups, aku jadi nggak enak nih, udah ngajak kamu lunch," aku sedikit merasa bersalah.

Larasati menjawab dengan tawanya. "Nggak tahu, ya. Aku merasa kamu baik, makanya aku mau keluar lunch sama kamu sekarang. Nyantai aja, mas Ram. Dari sikap mereka, aku udah bisa menebak kok kemana arahnya kalo mereka ngajak aku, mas."

Aku menengadah sesaat dan mendapati wajah cantiknya yang galau. 'Nggak heran jika banyak laki-laki yang tertarik menghabiskan waktu bersama kamu. Karena kamu memiliki daya tarik itu. Kamu memiliki pesona yang bisa membuat laki-laki tergoda, Laras' batinku.

Barangkali kami tak akan bisa saling bercerita seperti sekarang jika aku tak memberanikan diri mengajaknya lunch siang ini, ajakan yang sesungguhnya timbul karena aku pun tak bisa menolak kenyataan bahwa menatap wajah seperti dia memang sangat menyenangkan.

"Ga heran jika mereka tertarik, Laras. Kamu manis," aku menjawab spontan.

Dan aku menundukkan pandanganku secepat matanya terkesiap menentangku. Ah, jika tidak dianggap sebagai orang tak sopan, ingin rasanya menatapnya terus menerus dan menikmati setiap tutur yang terucap dari bibirnya. Tapi aku tak mampu melakukan itu.

Laras menyahuti ucapanku barusan dengan sepotong senyum, "Makasih." Ujarnya ramah.

Sejurus kemudian ia melanjutnya ceritanya tentang suaminya yang tak mampu secara ekonomi, yang memaksanya membantu suami mencari nafkah. Mulai dari tenaga administrasi perusahaan percetakan dua tahun lalu, hingga menjadi seorang Stylist seperti sekarang. Entah kenapa, simpatiku makin timbul. Aku malah makin respect terhadapnya. Dan aku kembali merasa bersalah karena menyadari bahwa bagaimana pun, ajakanku ini sesungguhnya tidak pantas aku ajukan. Karena dia adalah istri seseorang. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat keberadaan kami di kafe ini, dan menimbulkan salah penafsiran?

Ah, aku makin merasa bersalah.

"Dia minta aku ikut ke Amerika, mas. Katanya ada kesempatan dari bossnya. Dan dia minta aku nemenin kesana." lanjutnya lagi.

"Bagus, dong!" sergahku.

"Bagus apanya, mas? Orang tuaku nggak setuju. Kata mereka, ngapain cari uang jauh-jauh. Kayak disini nggak bisa makan aja. Lagian, aku nggak mungkin bisa ninggalin mereka jauh-jauh. Takut nggak ada yang mengurus mereka, terutama ibuku. Dia 'kan udah tua,"

"Tapi 'kan ini kesempatan buat masa depan kamu n suami, Laras."

"Iya juga, sih! Tapi aku nggak mungkin bisa ikut suami. Ibu bapakku nggak ngijinin."

"Laras, sorry ya kalo aku salah. Tapi kalo aku boleh ngomong, bedanya wanita dan laki-laki itu terhadap orang tuanya adalah.. Wanita ketika menikah, maka ia harus mengabdi kepada suami dan berbuat baik terhadap orang tua. Lain dengan laki2, ia harus mengabdi kepada orang tua dan berbuat baik kepada istri."

Laras terdiam dan memperhatikanku dalam-dalam. Membuatku merasa jengah dipandangi seperti itu. Aku menunduk lagi sebelum melanjutkan kata-kataku.

"Kalau kamu nggak ikut, itu sama aja kamu nggak mengabdi sama suami kamu. Nggak patuh sama suami kamu. Apa kamu nggak takut kalau dia sendirian disana, trus nanti terjadi apa2. Apa nggak mengganggu hub rumah tangga kamu kalo kalian saling berjauhan seperti itu?"

Aku bicara apa adanya. Rasanya aku memang harus mengatakan apa yang harus aku katakan ketimbang mengatakan apa yang ingin dia dengar. Dan entah kegalauan apa lagi yang dia rasakan setelah perbincangan tadi, apalagi setelah mendengarkan ucapanku.

Larasati, aku harus banyak menundukkan pandanganku. Agar tak semakin jauh terjebak dalam rasa ketertarikan yang makin menjerat karena parasnya yang sangat memikat. Waktu pun berjalan cepat. Tak terasa hampir 3 jam kami bercakap-cakap.

Sore itu aku kembali ke kantorku membawa perasaan bersalah pada dua orang. Istriku dan suaminya.

Wednesday, April 19, 2006

Bicara tentang amplop

Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Let's talk about 'amplop'.. Yeah, bicara soal amplop memang seringkali menyenangkan, meski terkadang ada nggak enaknya. Yang menyenangkan misalnya, hm, let's say.. ketika kita menerima amplop warna biru muda or merah muda. Hehehehe, tahu 'kan maksud gw? Biasanya kalo nerima biru muda pasti yg nerima ce dan yang ngirim co. Sebaliknya, kalo amplopnya merah muda (pink) pasti itu dari ce buat co. Isinya? Hm, udah bisa ditebak kalo nggak soal curhat, pasti soal nembak.. :)

Gw nggak tahu persis apa ABG sekarang masih main surat2an model jadul gitu, soalnya 'kan sekarang udah ada e-mail, sms or YM yang pasti bisa memberi banyak kemudahan buat org (yg melek IT) untuk curhat or nembak ke lawan jenisnya. Kirim2an surat pake amplop gitu? Uuh, itu sih udah kuno banget, gitu kali jawaban mereka, ya? Hehehe, nggak tahu juga, deh! Btw, buat loe yang lahir tahun 70-an kebawah, mungkin masih ngerasain romantisme kirim2an surat model jadul gitu ya.. Titip lewat temen sebangku si target, atau tarok di kolong mejanya si target di kelas.. :) :) Halaaah, jadul banget.. Tapi lucu juga kalo diinget2.

Yang jelas nerima amplop itu emang enak, unless yang nerima amplop yg isinya surat putus!!! Waaa, kiamat! Hehehehe.

Naah, rupanya kebiasaan orang jadul yg suka nerima amplop itu pun masih berlanjut sampe sekarang.. Terutama orang-orang 'terhomrat' (terhormat tapi keparat) para anggota Dewan yang duduk di DPR or DPRD, lebih terutama lagi mrk yang jadi anggota pansus yang lagi bekerja secara khusus pula untuk membahas rancangan suatu UU. Yeaaah, rupanya menerima amplop sudah menjadi kebiasaan mereka lahir batin. Sudah jadi reflek pikiran. Maka ketika melakukan sesuatu yang mereka pikir khusus, tanpa harus merasa malu mereka mengajukan or mengkondisikan sedemikian supaya mereka bisa amplop.. Amplop uang lelah!

My God... Apakah mereka ga punya malu? Mereka yang memang digaji (dari uang rakyat) untuk melakukan hal-hal seperti itu, sudah mendapatkan berrrrrrbagai macam aneka rupa fasilitas yang menggiurkan, pun masih tega-teganya meminta or.. let say mengharapkan amplop sbg imbalan atas 'kelelahan' mereka mengutak-atik rancangan undang-undang yang sudah dirumuskan. Cuma 'utak-atik thok'! Dan mereka merasa masih harus mendapatkan 'amplop' tersebut.

Mereka lupa (atau dilupakan oleh keasikan menghitung isi amplop) bahwa masih banyak anak bangsa di negeri ini yang bahkan untuk keringat yang mengucur deras setiap saat, setiap hari, sepanjang tahun, selama perjalanan waktu, pun tak pernah mendapatkan penghargaan yang cukup atas kadar lelah mereka yang jauuuuh menggunung dibanding 'kelelahan' orang2 terhomrat tersebut. Mereka buta bahwa masih banyaaaak anak bangsa di negeri ini yang masih membutuhkan kucuran amplop pemerintah untuk menopang kehidupan mereka yang jauuuh dibawah standar normal. Masih banyak... Dan mereka lupa atau buta akan itu semua, sehingga dengan se-enak udelnya meminta tambahan 'amplop uang lelah'..

Maka karena kelupaan atau kebutaan mereka itulah.. hingga kini kebiasaan menerima amplop itu menjadi sesuatu yang bersifat refleks. Tak perlu berpikir untuk mengatakannya, tak perlu juga berpikir untuk menerimanya. Seperti halnya tak perlu mereka berpikir untuk bagaimana memuaskan kebutuhan mereka sepuas-puasnya, sementara di hadapan mereka jutaan orang melata... mengais sedikit saja harapan ditengah kubangan kemiskinan.

Tuesday, April 18, 2006

ramlif n Ramz

Dear you,

Sering tanpa kita sadari ada dualisme dalam diri kita. Dua sisi kepribadian antara realitas dan pribadi yang sebenarnya yang memang kita inginkan, pribadi yang kita anggap ideal. Pribadi yang satu tumbuh dalam diri kita secara alami, sesuai dengan keadaan, mengikuti perjalanan diri kita dari waktu ke waktu dan terlepas dari keinginan kita membentuk pribadi kita seperti apa. It's the real us. Yang orang juga sering bilang.. Be Your Self!! Namun, barangkali nggak perlu kita pungkiri, akan selalu ada pribadi kita yang lain. Suatu pribadi yang kadang lahir ke permukaan karena berbagai keinginan dan pandangan kita akan satu paket 'kepribadian yang ideal'.. meski seringkali bertentangan dengan kenyataan.

Hmm, Entahlah, barangkali elo nggak spt begitu. Tapi, gw akui gw emang ngalamin yg kayak gitu. Gw merasa ada 2 sosok dalam diri gw yg mewakili kepribadian gw. Yang satu anggap aja gw kasih identitas ramlif.. dan satunya lagi Ramz... Apa iya gw punya kepribadian ganda??? Hahaha, tahu deh! Barangkali gw emang gokil!!! Terserah lah..

And you know what?? Parahnya lagi.. gw gak tahu mana yang real n mana yg sebenarnya yg lahir krn obsesi gw. ramlif or Ramz. Barangkali gw cuma bisa bedain dari apa yang gw rasa ketika gw merasa diri gw sebagai ramlif atau sbg Ramz. Gw merasa nyaman dengan Ramz. Tapi ramlif bikin gw so excited. Hehehehe, parahhh...

Beberapa hari ini gw makin merasa kehilangan ramlif, sesuatu yang bbrp tahun lalu gw sadari gw suka. Gw coba bbrp kali mencari jati diri gw yang satu itu jauh ke dalam diri gw, tapi makin gw cari, makin gw sadar bhw 'ramlif' is completely gone. He's disappeared.. Vanished!! Sepertinya waktu yang membuat gw -- sadar atau tidak -- kehilangan dia.

Yg gw inget dari 'ramlif' adalah seseorang yang begitu gampang mengekspresikan banyak hal. He can write.. He's full of dreamin'... Hey, isn't it good to have a dream!? It is dream that brought people walking on the moon. It is dream that give us a world today, the world that become one big global nation. Karena mimpi 'kan sekarang kita bisa ngobrol sambil liat webcam, sesuatu yang belasan or puluhan tahun cuma bisa kita liat di film STAR TREK.. Yeah, ramlif has full of dream. ramlif yang lo pernah bilang.. he has something that u can't describe what it was, but u know it is there.. inside him.

Gw cuma nggak ngerti kenapa gw bisa kehilangan dia.. Nggak ngerti gw.


April 18, 2006

Friday, April 14, 2006

13 APRIL...

Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Apa yang paling jauh namun juga sekaligus paling dekat dengan kita? Wise man once ever said, bahwa itu adalah.. masa lalu. Sehari saja kita tinggalkan hari ini, maka kita tak akan pernah lagi bisa kembali ke hari yang kita tinggalkan itu, bahkan untuk mendekatinya sekalipun. So, nikmati hari ini.. nikmati waktu demi waktu dimana kita berada saat ini. Namun juga hati-hati, karena apa pun yang indah dan menyenangkan yang kita nikmati hari ini, akan jadi sesuatu yang menyakitkan di keesokan hari. Karena hari ini akan menjadi masa lalu. Dan semua yang menjadi masa lalu, yang tak mungkin lagi kita raih karena tertinggal makin jauh, ironisnya akan selalu menjadi bagian terdekat dari kehidupan kita.. Masa lalu akan melekati kita ketika dia menjadi... kenangan.

Adakah yang lebih sulit dari pada menghapus kenangan? Mematikan kenangan? Memusnahkan kenangan? Adakah yang bisa melupakan kenangan ketika mencintai seseorang namun orang itu tak ada dalam kekinian kita, menjadi bagian dari hari ini yang kita jalani? Mungkin kita bisa memberikan penyangkalan terhadap diri kita sendiri bahwa kita tidak pernah bisa melupakan kemarin.. masa lalu. Kenangan! Karena kenangan semenyakitkan apa pun akan selalu menjadi bayangan, lekat dan erat dengan salah satu bagian dari kehidupan kita.

Dan kenangan itu pula yang tiba-tiba saja hadir lagi dan sukses menghadirkan satu rasa yang sering orang bilang.. nyakitin banget! Entah apakah karena selama ini memang gak pernah hilang dari alam bawah sadar gw, atau memang udah paten mengisi bagian dari memori jangka panjang gw, lagi-lagi gw terusik dengan orang yang sesungguhnya ingin gw tempatkan jauuuh di belakang masa lalu. Entah apakah karena tanggal 13 April kemarin itu memang mengusik dan membawa pikiran gw jauh ke masa dua tahun yang lalu (13 april 2004) tanpa gw sadari, atau memang gw yang menganggap bahwa hari itu memang sangat istimewa, sehingga malam itu dia hadir lagi mengusik dan mengisi benak gw dengan 'the whole her' dalam bentuk siluet mimpi.

Aaarrgh, sepertinya baru kemarin gw ngerasain satu hari dimana gw ingin agar hari itu gak pernah terjadi pergantian waktu. Satu hari dimana gw ingin segalanya menjadi diam dan mati tanpa pergerakan, tanpa peralihan. Tanpa ada detik yang bergulir, tanpa ada matahari yang tergelincir. Sepertinya baru kemarin gw ngerasain 'hari itu'.. kebersamaan kali pertama itu.

Damn you! Damn you for being so unforgetable... not even until now! Damn you!!! Damn April the 13th...

MARAH... MARAH PADA SIAPA? TERHADAP APA?

Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Yang paling menyenangkan adalah ketika kita tertawa dan tahu kenapa kita tertawa.. Either itu karena teman yang melakukan joke segar yg bikin kita haha-hihi, atau baca e-mail konyol yang emang bikin kita geli, atau ketika kita inget hal-hal lucu yang pernah kita alami dan seketika 'pop-up' tanpa kita sadari.. Kalau pun tidak sampai membuat kita tertawa, minimal bisa lah membuat kita menarik otot2 pipi kita ke belakang dan membentuk satu senyum simpul.. Tertawa itu memang menyenangkan.

Namun sebaliknya paling nyakitin ketika kita ngerasain marah tanpa bisa tahu sebabnya kenapa kita marah.. marah pada siapa.. atau marah terhadap apa? Gw gak ngerti kenapa, tapi itu yang gw rasa tiap kali gw nonton tipi belakangan ini. Kadang gw marah manakala gw menelusuri sejarah. Tentang sejarah kebodohan panjang yang dialami negeri ini dari zaman ke zaman. Kadang kala lain, gw bisa merasakan marah ketika tahu kejadian sebenarnya tentang peristiwa 9/11.. penyerangan terhadap menara kembar WTC di New York. Marah karena gw merasa selama ini udah jadi orang bego (karena dibego-begoin oleh sejarah yang dibelokin orang).. Marah karena TNI mengadakan latihan anti teror dengan mem-visualisasikan teroris dengan figure orang arab, memakai pakaian gamis dan kafiyeh (sejenis penutup kepala khas orang arab).. Apa maksudnya gitu? Apa memang melulu harus digambarkan bahwa teroris adalah arab?? dan mengarah ke satu agama tertentu???

Apa gwnya yang terlalu 'iseng banget mikir segala hal yang begituan' atau emang mrk org TNI/Pasukan anti teroris itu yang segitu blo'onnya sehingga ga mikir bwh ilustrasi yg kayak gitu itu bisa nyakitin segolongan tertentu? Apa pun itu, gw nyesel baca2 (tahu) berita soal kayak gitu krn lagi2 gw jadi marah.. Saking gak ngertinya gw bisa segininya memendam marah, gw sampe gak bisa tidur cepet belakangan ini? Gw gak tahu apa ada hubungannya.

Arrgh, sarap kali nih otak gw...

Tuesday, April 11, 2006

Maaf kalo ada yang tersinggung.. Isi kepala manusia emang gak seragam

Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Kita seringkali melihat kekerasan dari kaca mata lahir saja. Sesuatu yang dilakukan oleh FPI seringkali kita sebut sebagai kekerasan, karena terlihat secara fisik. Sementara kita lupa atau mungkin menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan secara halus atau dibungkus kode Etik hukum dan lain sebagainya, yang sebenarnya justru memiliki esensi kekerasan yang sangat berdampak baik jangka pendek maupun jangka panjang, yang seringkali dilakukan oleh orang-orang yang justru mengerti hukum dan tahu apa itu 'anarkisme'..

Karena dalih kebebasan berekspresi atau kebebasan hukum, pihak berwenang dengan mudah begitu saja mengijinkan Playboy terbit dan melakukan 'kekerasan' atau 'kerusakan' terhadap moral. Kekerasan dibiarkan terjadi meski begitu banyak orang sadar yang menjerit ketakutan akan dampak yang ditimbulkan oleh budaya seronok dan vulgar terhadap perkembangan jiwa anak2 atau remaja yang bisa memperoleh akses mudah terhadap hal-hal seperti itu.

Karena kekayaan orang memang seringkali menghalalkan segala cara. Sehingga ketika melihat potensi pasar yang sudah pasti bakal memberikan keuntungan yang bertumpuk, orang seringkali mengabaikan 'aspek merusak' lain yang sesungguhnya lebih dahsyat dari pada kekerasan fisik yang berlangsung sesaat spt apa yang dilakukan oleh FPI.

Kita lupa atau menutup mata melihat 'kekerasan' yang dilakukan oleh bandar2 narkoba yang mengedarkan narkotika dan obat2 psikotropika lainnya yang banyak beredar di kafe2 atau tempat sejenis itu, namun terbelalak lebar ketika FPI atau orang2 yang sadar akan dampak narkoba tersebut melakukan syok terapi dengan masuk ke tempat2 peredaran narkoba, dan melihat itu sebagai kekerasan. Suatu kekerasan yang sebenarnya timbul karena hukum yang lemah atau dilemahkan.

Begitu juga kita melihat hal itu sebagai suatu kekerasan ketika FPI atau orang2 sadar spt mereka berusaha mensweeping peredaran Playboy dan majalah sejenisnya, karena secara fisik itu terlihat sebagai suatu tindak kekerasan, hingga lupa menengok seseorang yang sesungguhnya bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap moral tersebut, yakni Editor/Pimpinan Majalah Playboy (dan sejenisnya) yang asik menghitung keuntungan dan kekayaan yang bakal dikeruknya, waktu demi waktu, tanpa peduli kebobrokan moral yang makin terjadi juga dari waktu ke waktu.

Sebenarnya kita melihat dengan apa?

Pelacur dan Model Telanjang...

Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Apa yang membedakan perempuan pelacur jalanan dengan perempuan model majalah porno? Jawabannya adalah kelasnya..

Pelacur jalanan adalah perempuan yang menjajakan tubuhnya dan menawarkan sesuatu yang banyak orang sebut sebagai 'kenikmatan' (yang berhubungan dengan masalah seks, tentunya...) dengan bayaran yang relatif murah (karena sifatnya yang 'single user') sehingga pelacur kerap disebut sebagai 'wanita murahan'.

Sedangkan, perempuan model yang khusus berpose untuk majalah2 porno (i.e. Playboy, Cosmopolitan, FHM, MO dsj) adalah mereka yang menjajakan tubuhnya untuk 'dinikmati' oleh mata kamera dan juga mata si photographer dan ribuan atau jutaan 'penikmat tubuhnya' yang menikmati lewat media majalah atau internet (ketika photonya terpampang di internet), dan untuk itu mereka mendapatkan bayaran yang relatif mahal atau tinggi sehingga mereka kerap disebut sebagai 'wanita kelas atas'.

Perempuan pelacur seringkali kita sebut dengan sebutan yang sangat murah dan 'rendah' dengan kosakata 'pekerja seks komersial' sementara mereka yang mempertontonkan ketelanjangan atau ke-setengahtelanjangannya (atau seperempat, seperenam, seperdelapan, atau sepersekian telanjang) secara vulgar di ruang publik, mereka yang melenggak lenggok memperlihatkan sesuatu yang sering orang bilang sebagai 'seni'berpose baik telanjang atau setengah telanjang itu tadi (dan seterusnya dan seterusnya), seringkali kita gelari kosakata yang begitu berharga yakni 'pekerja seni' atau dalam bahasa sehari2.. Model, entah itu model berbakat, model cantik dan sejenisnya, yang membuatnya makin menjadi... 'wanita mahal' atau wanita kelas atas.

Perempuan pelacur selamanya adalah tetap pelacur dan model 'panas' tadi (terlepas dari rumor tentang bisa tidaknya mereka dipakai.. atau sering disebut 'bispak') tetaplah disebut model, baik model 'thok maupun model plus-plus.

Seringkali kita membedakan perlakuan atau setidaknya cara pandang kita terhadap mereka. Betapa sering kita melihat, mendengar dan membaca pandangan miring tentang 'wanita murahan' atau perlakuan kurang manusiawi terhadap mereka. Pandangan sinis dan mencibir thd kehidupan mereka yang seringkali tanpa sungkan kita tunjukkan dalam bentuk sikap jijik. Wanita murahan itu sedemikian murahnya sehingga kadang kita merasa untuk mengingat mereka dengan menyebutkan nama mereka pun tidak pantas atau setidaknya.. tidak perlu. Karena mereka adalah wanita murahan, bukan individu yang memiliki nama.

Tapi tidak demikian halnya dengan mereka para model. 'Wanita-wanita kelas atas nan cantik' ini sadar atau tidak, begitu mendapatkan pengakuan dan diagung-agungkan, sehingga kadang kita merasa untuk menampilkannya dalam berita miring -- ketika mereka terlibat kasus pun -- adalah tidak pantas. Begitu tingginya penghargaan terhadap mereka sehingga mereka harus 'dihargai' dengan nilai rupiah yang kadang sangat mahal. Dan betapa mahalnya nilai padanan mereka untuk bisa 'memakai' wanita-wanita model ini.

Tapi pernahkah kita melihat satu kesamaan dari perempuan pelacur dan perempuan model tersebut??? Bahwa mereka adalah wanita-wanita yang 'bisa' dibeli. Wanita-wanita --terlepas dari murah atau mahal-- yang demi senilai Rupiah (hmm, atau mungkin sebagian dibayar dengan dollar) tersebut mau menggadaikan nilainya sebagai wanita yang terhormat dengan cara menuruti perintah atau permintaan atau apapun namanya (tuntutan skenario dan lain-lain) mereka yang telah (atau akan) 'membayar' mereka.

Pelacur mungkin lebih jujur dalam mengakui dirinya yang terpaksa melacur demi memenuhi tuntutan hidup yakni.. butuh makan, meski tidak sedikit dari mereka yang melacur demi memenuhi kebutuhan 'bergaya hidup' hedonis.. bahwa jaman makin memanjakan budaya narsis. Tapi toh, mereka tetaplah orang-orang yang jujur menelanjangi dirinya dan menceburkan diri dalam kehidupan yang dengan rela mereka akui sebagai dunia 'pelacuran'..

Lalu bagaimana dengan para model telanjang ini? Maaf, mereka memang bukan pelacur, sodara2.. Mereka adalah manusia2 yang mengaku 'bermartabat' kendati ketelanjangan tubuhnya telah berulang kali menggauli fantasi para laki2 yang haus kepuasan seks dan cukup untuk menggapai orgasmenya meski hanya dengan melucuti tiap inci gambar tubuhnya. Mereka yang meski sadar bahwa potret telanjang tubuhnya adalah obyek pemuas nafsu laki-laki, namun berdalih bahwa kesemuanya itu adalah tuntutan skenario, atau tuntutan keadaan, atau menyesuaikan kondisi... atau bentuk pengejawantahan atau ekspresi jiwa seni mereka yang memang tak mengenal batas (kalau tidak bisa dikatakan liar).. atau... atau.. ah, masih banyak dalih yang bisa mereka kemukakan tanpa perlu melihat kebenarannya.

Jadi jangan samakan mereka para perempuan lacur itu dengan para wanita model panas tersebut. Jangan pernah menyebut Andara Early, Olga Lydia, dan nama-nama lain yang ketelanjangan atau ke-setengahtelanjangannya bisa kita lihat dengan mudahnya hanya dengan meng'klik' sebuah tombol (begitu murahnya).. Mereka bukanlah pelacur atau seseorang yang kehilangan martabat yang meski telah dengan gamblangnya memperlihatkan inci demi inci tubuh yang seharusnya (sesuai fitrah) hanya boleh diperlihatkan bagi orang berhak, karena itu adalah sebuah tuntutan profesi. Profesi yang menuntut mereka untuk telanjang, tanpa harus merasa sebagai pelacur.

Kesamaan mereka hanya satu... kita bisa menelanjangi (atau bahkan.. maaf.. meniduri) mereka dengan nilai tertentu, tak peduli berapapun harga yang mereka tetapkan untuk kita melihatnya telanjang (dan maaf.. telentang).

Dari Milis Tetangga...

Today's on It's Me...


Dear Blogger... Ini ada sedikit oleh2 dari Milis Tetangga yang saya kunjungi.. Semoga bermanfaat!

Lagi-lagi Travel Warning
Oleh: Fauzan Al-Anshari
(Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia)

Travel warning! Lagi-lagi travel warning! Biasa, dari Amrik dan sekutu dekatnya, Aussie. Anehnya Kapolri Jenderal Sutanto mengaku belum menerima laporan akan ada aksi bom terhadap orang asing di Indonesia. Mengapa negara asing itu justru yang lebih tahu akan adanya serangan bom terhadap warganya? Mengapa mereka seenaknya mengekspose ke publik, bahwa warganya akan diserang teroris, sehingga perlu mengeluarkan travel warning agar warganya tidak ke Indonesia? Mengapa negara asing itu selalu membuat warning pada saat-saat tertentu yang sangat strategis?

Saya kira banyak orang mengikuti perkembangan mutakhir. Secara kronologi singkat dapat diceritakan begini: Freeport digugat, tragedi Abepura meletus, ExxonMobil dimenangkan tapi diancam hak angket oleh DPR, 'juragan' Condi dan Tony datang untuk meningkatkan investasi dan kerja sama membasmi teroris, 42 warga Papua mendapat temporary protection visa (TPV) di Australia, RI marah, dubes RI dipanggil pulang, perang karikatur SBY-Howard, dan travel warning dilansir. Inilah saat yang terbilang strategis. Pada saat yang sama, secara 'kebetulan', Ustadz Abu Bakar Ba'asyir akan mengakhiri masa penahanannya pada awal Juni 2006. Jadi, hemat saya, warning ini hanya sebuah conditioning untuk menciptakan situasi yang kondusif agar bom itu pantas diledakkan.

Adapun tujuan peledakan bom itu antara lain untuk mengalihkan isu intervensi AS dan Australia dalam sejumlah kasus di atas, dan untuk mendapatkan alasan yang dipaksakan demi memperpanjang penahanan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Kalau perlu sampai beliau wafat di penjara. Dengan demikian ada pembenaran terhadap tuduhan 'sarang teroris' sehingga dolar terus mengucur untuk meningkatkan kerja sama pembasmiannya. Konsisten

Kalau kita mau mereview kembali sejumlah bom yang meledak di Indonesia sejak bom Bali I (12 Oktober 2002), semuanya selalu didahului dengan travel warning. Anehnya bom-bom itu bisa lolos begitu saja: Meledak, merusak kenyamanan tidur nyenyak bangsa kita. Lebih aneh lagi, pejabat berwenang dalam otoritas keamanan di Indonesia justru cenderung memanfaatkan bom-bom ini untuk lebih meningkatkan represivitasnya terhadap sejumlah aktivis Muslim. Bahkan juga digunakan untuk menciptakan kondisi yang akhirnya memaksa DPR melegislasi regulasi yang represif.

Mengapa tidak pernah ada, misalnya, operasi keamanan ditujukan terhadap ribuan agen asing yang beroperasi di Indonesia. Saya masih ingat pernyataan Jenderal Ryamizard Ryacudu bahwa ada 60-an ribu agen asing bekerja di Indonesia, berpotensi besar menghancurkan bangsa ini.

Lihat saja, misalnya, latihan pemberantasan teroris oleh AL kita baru-baru ini. Terorisnya berbaju gamis dan berkafiyeh. Padahal tidak pernah ada satu kali pun perompakan di laut, misalnya, dilakukan oleh santri.

Mengapa operasi pemberantasan teroris tidak pernah di-setting, misalnya, menghadapi musuh dari Singapura yang sudah jelas mencuri pasir laut kita. Atau pasukan antiteror kita dipersiapkan untuk menghadapi musuh dari Selatan, seperti Australia yang sudah jelas sering menangkap dan menembaki para nelayan kita. Mengapa gambaran teroris itu diidentikkan dengan Muslim? Atau kita perlu terus terang saja: memang Muslim itu teroris, begitu? Sedangkan koruptor, pembalak liar, dan penjahat lainnya adalah sahabat yang harus diantar ke istana?

Saya juga heran, mengapa sejumlah bom yang lolos dari kepungan aparat itu tidak disebut sebagai kegagalan mereka dalam bekerja. Sehingga Dai Bachtiar (kapolri saat itu) tetap aman memegang jabatannya sampai lima tahun. Padahal, hampir setiap tahun Indonesia diguncang bom. Mengapa tidak dibiasakan mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban publik terhadap kegagalan kinerja para pejabat kita?

Membingungkan
Anda mungkin masih ingat pernyataan Kepala BIN, Syamsir Siregar, beberapa waktu lalu, bahwa modus operandi para teroris sudah berubah: tidak lagi pakai bom tapi penculikan atau pembunuhan pejabat publik. Seandainya sekarang para teroris itu balik lagi ke modus pengeboman, terus bagaimana nasib pernyataan Kepala BIN tersebut? Dicabut, dilupakan, atau dianggap angin lalu saja? Yang jelas, sampai sekarang tidak ada pejabat publik yang diculik atau dibunuh oleh teroris.

Sebetulnya kita bisa menanyakan kepada Pak Syamsir, siapa yang dimaksud dengan teroris yang sudah beralih 'profesi' tersebut. Kalau yang disebut teroris adalah seperti sejumlah tahanan di Cipinang, cirinya ada empat: jidat hitam, berjenggot, berbaju koko, dan bercelana congkrang. Tapi mungkin ada teroris lainnya, saya tidak tahu.

Cuma saya heran saja, sudah ratusan aktivis Muslim ditangkap bom terus saja 'menyalak', sementara pelaku pengeboman Pamulang sampai sekarang belum tertangkap. Apakah karena korbannya adalah Abu Jibril, aktivis MMI yang dianggap 'teroris' lalu pelakunya dibiarkan bebas berkeliaran? Kalau tidak ketemu di dunia, pasti ketahuan di akhirat nanti. Terus terang saya jadi bingung: apa definisi teroris sebenarnya?

Untuk menghilangkan kebingungan tersebut, MMI telah mengajak dialog terbuka kepada pihak yang paling berwenang menangani kasus terorisme yakni Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri. Namun sampai detik ini ajakan dialog ini belum disambut dengan mesra. Padahal Tujuan dialog itu adalah untuk transparansi kebijakan publik antara impelementasi penanganan terorisme di lapangan dengan upaya penegakan hukum di negara hukum. Terus terang, kalau ada bom, saya kebanjiran telpon. Saya tanya mengapa setiap ada bom selalu bertanya kepada MMI, padahal kami bukan pakarnya. Seolah-olah pertanyaan itu menggiring opini publik, bahwa peledakan bom itu terkait dengan aktivitas MMI, khususnya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Padahal beliau sudah diinapkan di 'hotel prodeo' sejak 28 Oktober 2002? Bagaimana logikanya, orang yang dipenjara harus bertanggung jawab terhadap peristiwa di luar penjara? Kalau demikian cara berpikir aparat untuk tetap menahan Ustad Abu, maka sampai kapan pun beliau tidak bisa bebas. Namun semua itu tak lepas dari izin Allah SWT.

Rekomendasi
Untuk mengantisipasi 'rencana' peledakan bom yang konon akan terjadi pada bulan-bulan ini, saya mengusulkan agar semua komponen bangsa harus bersatu untuk membentuk 'pagar betis' agar bom itu tidak jadi meledak. Sebab kalau meledak, situasi akan tambah kacau, perhatian publik akan beralih dari persoalan pokok bangsa kita, dan akhirnya orang yang tidak bersalah lagi-lagi jadi 'kambing hitam'.

Saya juga berpendapat, sebaiknya aparat berwenang aktif menanyakan langsung kepada pemerintah AS dan Aussie: di mana dan kapan bom itu akan diledakkan, serta siapa calon pelakunya. Kalau sudah tahu, segera saja ditangkap dan diproses secara hukum, diadili, tetapi tidak perlu disiksa. Kita jangan menjadi 'pasukan tukang jemput' info asing saja, tetapi harus lebih tahu dari mereka. Ini kan negara kita sendiri, masak kalah duluan. Dalam perspektif Islam, rencana jahat itu akan kembali kepada pembuatnya. ''Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana jahat mereka (maka) rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri'' (QS Fathir: 43)

Tuesday, April 4, 2006

About Married

Today's on It's Me...


Dear Blogger...

Bicara soal 'getting married' memang selalu saja menarik, terlebih kalo berbicara dengan seseorang yang sedang menghadapi pernikahan. Tapi, keliatannya sore ini gw emang harus posting something about 'getting married'.. Hm, not bcos gw pakar or some one who has such a oh-so-wonderful marriage life.. Nggak gitu2 banget. Cuma entah kenapa, kok bisa2nya sore ini gw chatting sama bbrp netters yg obrolanya mengarah ke soal 'getting married'.. 1 diantaranya gw baca postingan temen.. which is.. this one Tata. Gw tahu postingan ini pas lagi chatting sama Dahlia..

And so gw lanjut chatting sama 3 org yang lain pulak secara bersamaan dan tiga2nya.. lucunya memiliki kesamaan.. which is being worried to get married soon. Tentunya dengan alasan yg berbeda-beda. But, d bottom line is.. umumnya keraguan tentang calon pasangan dan keraguan tentang gimana nanti kalo mrk married..

Well, I'm not in position to judge any of them.. but as long as I concern, kelihatanya mereka memiliki syndrome yang sama. Takut melihat sesuatu yang ada dibalik pintu or jendela yang membatasi dunia mrk saat ini dengan dunia pernikahan yang kelak akan mereka masuki (ala maakkk, bhs gw. well, kali ini serius dikit, deh! hehehe).. So, mrk takut melihat sesuatu yg mungkin ada dibalik pintu yg saat ini belum pernah mereka buka, atau takut mendapati sesuatu yang (mungkin selama ini udah terlanjur tertanam dalam benak mereka bahwa itu memang menakutkan) ada dalam ruangan yg notabene sama sekali belum mereka masuki.

Gw jadi teringat salah satu email yg pernah gw kirim ke Tata.. (sorry, lho, Ta, gw post lagi disini.. hak cipta ada pada gw 'kan? kekekekek).. So, tadi gw sempet ngomong sama Dahlia n dia bilang basi.. hehehe. Tapi, gak ada salahnya 'kan kalo gw post lagi disini..

Ini sekedar pandangan gw about the marriage life..

“Setiap org pasti punya view n opini yg beda2 soal pernikahan.. Menurut aku sendiri, aku melihat pernikahan itu analoginya sama dengan melukis bersama. Awal mula aku memutuskan nikah adalah karena aku melihat pernikahan itu adalah sebuah lukisan yang didalamnya penuh dengan goresan dan warna yang sangat menggugah hasrat untuk aku menyelami dan menikmati goresan dan warna tersebut.

Seiring waktu yang terus berjalan, lama2 aku dan pasangan semakin memahami bahwa pernikahan itu bukan semata2 lukisan yang didalamnya penuh dengan goresan dan warnya yang menggugah hasrat semata. Bahwa ada begitu banyak warna yang didalamnya mengandung makna yang beragam.. ada warna kesetiaan, warna tanggung jawab, warna cita2 yg ingin dibangun dan lain-lain.. dan masing-masing dari kita memiliki hak dan kebebasan untuk kita menuang dan menggoreskan apa yang kita suka agar lukisan itu menjadi sesuatu yang membuat kita nyaman.

Tapi karena pernikahan hakekatnya adalah penyatuan dua individu yang masing2 memiliki keinginan yang beragam, maka hak dan kebebasan kita harus toleransi dengan keinginan pasangan dalam menuangkan warna dan goresan yang lain, sesuai dengan keinginannya. Maka yang terbaik adalah komitmen dan keinginan yang sama untuk menyatukan warna dan goresan yang kiranya bisa menyatu, berpadu dan berbaur agar warna2 dan goresan2 yang tertuang dalam lukisan tersebut menjadi indah dipandang dan dinikmati oleh kedua belah pihak.

Maka aku memandang pernikahan itu adalah tentang melukis bersama, untuk dinikmati bersama dan ketika satu lukisan selesai, merupakan keinginan bersama dimana kita akan meletakkan lukisan tersebut. Baik buruknya lukisan, tentunya tergantung dari kita yang menuangkan warna dan goresan itu toh? Dari pada menggantungkan nasib ‘lukisan’ tersebut kepada tukang lukis atau tukang tatoo, akan lebih make sense kalo hasil akhir ‘lukisan’ itu tergantung pada kita yang melukisnya..

Gitu deh!

Tapi gw ada satu analogi lain yg ga ada salahnya gw share disini.. Pernah melihat tempat yg gelap dari tempat lo berada yg kebetulan terang benderang? Pasti pernah.. Pasti ada dalam benak kita sesuatu yg entah apa tapi serem tiap kali melihat tempat gelap, katakanlah misalnya.. kebun, di malam hari, sementara kita sedang berada di beranda rumah. Semakin kita berusaha melihat kedalam kegelapan tersebut, maka makin kita merasa bahwa itu memang menyeramkan. Tapi coba hampiri, dekati atau masuki wilayah gelap itu.. Apa yg kita lihat? Dari pengalaman gw --kebetulan di belakang rumah masih ada sebidang tanah yg cukup serem kalo malem dilihat dari rumah gw-- ternyata ketika gw berada di tempat yg semula gw anggap serem itu.. nggak ada satu pun yg menyeramkan. Ketika mata kita beradaptasi dengan kegelapan, maka segala yang semula gak kelihatan, semuanya menjadi jelas terlihat meski cuma dibantu bias cahaya lampu dari kejauhan.

Begitu juga married.. Sebelumnya gw juga merasakan ketakutan itu dan menganggap begitu banyak hal 'mengerikan' bakal menanti gw ketika udah married nantinya. Tapi ternyata, semuanya menjadi lain ketika itu gw jalanin sendiri.

So, apa pun ketakutan yg ada yg bisa jadi penghambat loe ngambil keputusan buat married, let me tell you.. its nonsense! Itu semua cuma gambaran ketakutan yang kita bangun sendiri karena ketidak-tahuan kita akan apa yang akan kita hadapi sesugguhnya. Marriage is not a battle field inwhich an enemy is waiting to kill us. No! Its all depend on us, whether we choose to be a happy one or in reverse!

Meet Me in Horizon..

Today's on It's Me...


Meet Me in Horizon... yeaahh, Meet Me in Horizon.. kata-kata ini selalu mengiang-ngiang (kakakak, bahasa gw.. apa sih bahasa gaulnya mengiang-ngiang???).. hmm, wait.. mungkin yang enak gini.. 'kata-kata ini selalu terngiang-ngiang'??? hmm, maksudnya 'ngiang' apa ya?? halaahh, kenapa gak 'ternguing-nguing' aja? yeaaa.. mending ini aja gw pake.. :p

Ya, kata-kata ini selalu saja ternguing-nguing.. eeh, lho!? kok, kayak bunyi nyamuk mo menclok di kepala aja, jadinya??? kakakakaka.. what ever bae'laaa.. Pokoke kata-kata 'Meet Me in Horizon' ini bbrp hari terakhir selalu aja spinning around in my mind (maafkan daku bumi pertiwi, daku lebih sreg dengan kosa kata ini..). Gw janji untuk menulis cerpen to someone about our story yg bercerita tentang sepasang manusia yg can only meet in d horizon.. Hanya bisa bertemu pada satu garis dimana pada garis itu mrk bisa lebur dan menyatu. Kenapa begitu? Ada ceritanya..! Makanya nanti aja gw ceritain.. kalo sekarang sama aja boong gw bocorin ide cerita..

Plot-nya udah ada.. Judulnya udah ada.. Tapi why all sudden I lost all those word as well as my imagination. Pikiran gw blank banget.. Bukan karena ga ada yg gw pikirin, tapi justru barangkali udah overload sampe2 otak gw nge-hang dan tiap kali mo dipake nulis, yang keluar cuma.. Error!!!

Liat aja, ni blog.. ampe2 kurus gak keurus krn jarang makan postingan.. Gak ada cerita seru... (wooyyy, bukan Cerita-Cerita Seru yang ada di website 17.com itu. Bukan... Ups!). Jadinya ni blog sepi pengunjung aka gak laku! Wakakakakkk.. emangnya dagangan, apa? :D:D:D

Huh, kayaknya gw harus hokus-pokus-fokus-voltus-pilatus lagi nih and ngucapin d magic word... sim salabim!!! biar jari n otak gw bisa singkron lagi merangkai kata demi kata agar bisa terjalin dengan indah.. (huahahaha.. ngebajak lirik orang pulak!! Alaaah, Ramz.. mo jadi ape, lo!?)

Mudah2an bisa gw selesain sebelum dia birthday! AYOOOO, GW BISAAA!!!! aaARRGGGhhHH!!!!!

Ciayo!