Wednesday, April 30, 2008

membuang kenangan

adakah kenangan yang usang karena waktu? begitu usangnya sehingga kita bisa membuangnya begitu saja? lucu... tidak seperti layaknya barang yang makin tua makin usang, tak terpakai dan tak berarti, suatu kenangan justru semakin berharga ketika usia makin menua.

entah karena ada keinginan yang tersembunyi yang menginginkannya kembali, atau ada setitik penyesalan menyadari kenangan itu tak pernah sempat dijalani, yang membuat kenangan itu seperti tak mengenal kata usang. terpatri abadi.

tapi, barangkali ada baiknya suatu kenangan (atau keinginan dan impian) biar tetap menjadi kenangan. tak perlu terjadi peristiwa nyata suatu hari nanti. karena kenyataan (jika terjadi) kemungkinan bakal membuat seseorang terlukai, sengaja atau tak sengaja. kenyataan (dan keinginan yang salah) bakal membuat suatu tatanan yang saat ini asri, menjadi hancur dan rusak berantakan. karena waktu telah membawa segala sesuatunya tersusun seperti apa adanya sekarang.

jadi kenangan (atau keinginan dan impian), mungkin akan selamanya jadi kenangan. namun, sejatinya impian, tak akan pernah usang sebelum semuanya tercapai, terjangkau, terlampau atau terjalani.




tentang kenangan, tentang masa lalu

pada waktu-waktu yang terlewat dan usang
ada berbaris kisah tentang kau didalamnya
tentang rindu yang kupasung
tentang puisi dan prosa yang terpendam
tentang kata cinta yang makin kehilangan makna

kau menjadi bilur-bilur penggurat kesepian
tanpa sapa tanpa tatap tanpa sua
semua terjadi berhari-hari tanpa jeda
mengisi waktu demi waktu yang hilang tertimbun
waktu yang kusesali kujalani tapi kuharapkan kembali
karena kau yang selalu mengisi sepi
sedang kau satu yang tak terjangkau terlengkau

dan waktu demi waktu berisi ceritamu memang usang
namun selalu saja ada baris-baris kisah baru tertuang
tentang kau di dalamnya
tentang rindu yang menggeliat
tentang puisi dan prosa yang selalu terkuak
tentang kata cinta yang masih saja menanti
menjadi berarti
ketika kubisikkan jauh ke relung hati,
ditempat mana kuingin sembunyi



Mei 2008

Monday, April 28, 2008

negeri ini



negeri ini bukan negeri atas awan
tapi banyak dihuni para siluman
nyawa mudah hilang melayang
tapi jasad dimana, lenyap nggak keruan!

negeri ini tak suka kekerasan
tapi banyak mahasiswa mati di jalan
rakyat lapar dan miskin jadi tak berarti
karena orang-orang sibuk memperkaya diri

negeri ini makin tak kumengerti
ketika kisah kepedihan dan kesusahan
kian jadi bahasa sehari-hari
harga-harga naik menjadi-jadi
barang kebutuhan juga susah dicari-cari

negeri ini ladang para koruptor
dari lurah, camat hingga bupati makan duit kotor
polisi, hakim dan jaksa demen duit suap
nggak ketinggalan menteri dan wakil rakyat
ikut-ikutan nilap duit bak tukang sulap!

negeri ini emang udah mo ancur
bikin gw males banget
dan pengen tidur!

Tuesday, April 1, 2008

I wonder why...

Mengapa?


Mengapa ada sebagian orang seringkali terhempas dari keinginan-keinginan yang sesungguhnya sederhana, sementara sebagian lagi sepertinya begitu mudahnya memperoleh keinginan yang kadang seperti mustahil. Ada yang harus berjalan, berlari, berliku-liku, naik-turun menempuh perjalanan panjang untuk akhirnya kembali pada titik dimana dia memulai, sedang waktu dan tenaga telah habis dia curahkan. Sementara ada yang tanpa perlu susah payah tiba-tiba sampai pada titik tujuan ketika dia belum lagi memulai segalanya.

Apakah hidup ini memang tidak adil, atau manusia memang memiliki nasib atau takdirnya masing-masing? Dimana memang ada sebagian orang ditakdirkan sebagai orang-orang kalah dan gagal, dan sebagian lagi ditakdirkan sebagai orang-orang yang tak pernah kalah. Sebagaimana janji Sang Pencipta yang menciptakan segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan.

Ada siang, ada malam... Ada terang dan gelap... Baik-buruk... Sedih-Gembira.. Sukses-Gagal... Diatas-Dibawah... Syurga-Neraka, dan lain sebagainya.

Seringkali aku bercermin dan bertanya pada diri sendiri, gerangan pada kelompok manakah aku berada. Apakah sebagai bagian dari mereka yang ditakdirkan sebagai orang-orang gagal, atau sebaliknya orang-orang yang tak pernah kalah. Memang tak mudah untuk menilai diri sendiri. Karena ketika aku terbentur pada kegagalan untuk memperoleh keinginanku, maka aku lantas akan berpikir bahwa aku adalah termasuk orang yang kalah. Namun disaat lain, Allah membuka mataku dan memberikanku kesadaran betapa aku sesungguhnya memiliki banyak pencapaian. Ya, barangkali itu yang terjadi.

Banyak? Duh, iya.. Sungguh aku termasuk orang yang kurang bisa mensyukuri nikmat. Begitu banyak karunia Tuhan yang sesungguhnya telah kuperoleh, kuabaikan hanya karena ada segelintir keinginan yang belum mampu kuraih. Dan ketaksabaranku membuka peluang setan membawa pikiran-pikiran tentang betapa aku selalu merasa gagal.

Mengapa selalu saja aku terjebak pada kalimat tanya ’apa lagi yang belum kumiliki..?’ yang selalu membawaku pada keadaan 'masih kurang'...

Sedang seharusnya aku berpegang pada kesadaran tentang ‘apa-apa yang sudah kuperoleh?' agar bisa membawaku pada 'rasa syukur berkepanjangan'...

Mengapa?


Ciledug, 01 April 2008