Friday, August 29, 2008

A week in Ben Heas - new experience



Muara Wahau, 10 Agustus 2008


A week in Ben Heas, new experience...






Seminggu di desa Ben Heas ini, ada sedikit perasaan yang mengusik hati saya. Desa ini begitu tenang. Waktu seperti berjalan di tempat. Siang memang panas terik menyengat. Dari tempat saya menetap ini, langit seperti terlihat begitu luas. Sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan tanah datar tertutup kehijauan. Entah itu belukar, pohon-pohon berpokok sedang tingginya, hamparan padi yg tumbuh di ladang, atau hamparan tanaman sawit yang rupanya menjadi bagian utama dari kehidupan masyarakat di wilayah ini.




Hampir tak ada penghalang pandangan seperti halnya bangunan-bangunan tinggi di Jakarta, hingga ke manapun saya memandang, saya hampir bisa melihat cakrawala. Ke manapun saya memandang, langit seakan membentang luas dan jatuh di garis cakrawala nun jauh di sana. Begitu luasnya.




Saya ingat, sepanjang perjalanan Sangatta - Wahau, saya memang menemui area perbukitan. Bukit yang hijau. Hijau, memang. Namun, hampir di tiap titik kehijauan itu saya bisa melihat begitu banyak pokok pohon yang entah mengapa, seperti mengering tak ada lagi cabang-cabang dan dahan tersisa, hingga tak ada lagi daun-daun yang menaungi. Agak sulit saya mengungkapkan dengan kata-kata. Melihat batang-batang pohon kering yang sedang tingginya itu seperti melihat seorang tua renta yang kurus ringkih, tinggal menunggu waktunya tumbang.




Memang itu yang saya lihat.




Informasi dari beberapa orang yang saya temui, wilayah ini dulunya adalah rimba yang mengandung kekayaan tumbuhan hutan, dengan pohon-pohonnya yang kekar besar dan tinggi menjulang menebarkan cabang-cabangnya yang rindang penuh dedaunan. Tapi itu dulu. Beberapa perusahaan HPH dan perkayuan telah habis melahap hampir semua pohon-pohon meranti, ulin dan lain-lain, hingga tinggal menyisakan hamparan semak belukar tak berarti. Tak ada lagi kekayaan yang bisa dinikmati masyarakat asli sini.




Dan kini, saya datang dengan tugas yang di satu sisi menuntut keberhasilan agar perusahaan saya bisa segera melakukan aktivitasnya, namun di sisi lain saya sadar, bahwa apa yang saya kerjakan akan menghasilkan satu dampak lingkungan baru yang lebih parah. Mungkin! Saya tiba-tiba seperti melihat hamparan wilayah seluas 12,100 ha ini seketika menjelma menjadi undakan-undakan berukuran raksasa, dengan kubangan yang juga berukuran raksasa menganga.. Dengan sapuan warna tanah merah dan bongkah-bongkah berwarna hitam.




Ya, tak berapa lama lagi tempat ini akan berubah menjadi area penambangan batu bara. Melibas habis semua yang hijau menjadi area terbuka dimana ratusan alat-alat berat seperti Dump Truck, Excavator, Wheel Loader dan ratusan lainnya berseliweran mengambil semua yang ada di perut bumi... Batu bara!




Ya, dalam hitungan 2-3 tahun lagi tempat hijau yang asri dan hening ini akan segera terusik oleh panas dan kebisingan dari raungan gemuruh alat-alat berat yang akan segera didatangkan dari mana-mana. Seperti halnya pit-pit di Sangata, Muara Bengalon, Berau... dimana perusahaan-perusahaan raksasa seperti KPC habis-habisan mengeksploitasi alam ini, mengambil kekayaannya dan menyisakan kesibukan masyarakat dan warga lokal penghuni wilayah ini turun temurun, pindah ke daerah lain.. Relokasi. Sesuatu yang sejak awal saya sadari akan sangat mungkin terjadi. Sesuatu yang menyisakan pertanyaan di benak saya, bagaimana mereka nantinya jika kelak terkena program relokasi.




Setiap saat saya berpapasan dengan sisa-sisa masyarakat suku dayak Whe Hea, selalu saja timbul rasa bersalah. Bahwasanya, tak lama lagi mereka akan kehilangan tempat tinggalnya yang sekarang mereka diami. Mereka akan kehilangan lahannya yang meski belum mereka miliki secara hukum positif, namun secara hukum adat dan turun temurun telah lama mereka diami.




Maka, ketika saya mengikuti acara Adat Melas Bumi, suatu acara adat yang diadakan dimana sub-kontraktor akan memulai kegiatan drilling minggu depan, ada perasaan teriris. Seperti halnya ketika sang ketua adat mengiris leher ayam dan babi sesembahan sambil membaca mantera dengan lantang ditujukan kepada arwah leluhur dan para penghuni gaib di hutan tempat mana titik bor ditentukan, hati saya seperti teriris menyaksikan moment-moment yang baru kali ini saya saksikan dan mungkin tidak akan ada lagi moment yang berasal dari tradisi seperti ini, suatu hari nanti. Perasaan teriris menyaksikan bahwa saya mungkin akan menjadi bagian dari hilangnya tradisi ini, jika perusahaan memulai kegiatan penambangannya di desa ini.




Dan diantara perasaan ngeri dan merinding, sejumput rasa sedih menyeruak mendengarkan sang Ketua Adat terus menyanyikan untaian jeritan pedihnya, untaian doa-doa yang memohon keselamatan dari sang Maha Kuasa dan arwah para leluhur.




Seminggu saya disana, wajah-wajah mereka melekati benak saya seakan jauh sebelum ini saya menjadi bagian dari mereka. Wajah yang menerima saya dan tim pembebasan lahan dengan tangan terbuka.

Thursday, August 28, 2008

A long journey to Muara Wahau - a flash back



Balikpapan, 3 August 2008
Go to Muara Wahau!


Tugas itu datang juga akhirnya. Tugas dari kantor untuk saya terjun ke lapangan, Muara Wahau. Suatu nama yang selama empat tahun ini hanya bisa saya sebut dan saya bayangkan seperti apa keberadaannya, tanpa pernah sekalipun saya jejak secara langsung.

Ya, selama ini nama-nama tersebut hanya bisa saya sebutkan secara fasih tanpa pernah sekalipun saya berada disana. Kecamatan Muara Wahau, desa Ben Heas, desa Diak Lay, Dia Beq, suku Dayak Wea Hea, Sengatta, dll.

Begitu lekat di kepala saya kondisi di lapangan yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat photo-photo yang dikirim dari lapangan ke Jakarta. Kondisi medan dimana pekerjaan drilling berlangsung, kondisi sungainya yang lebar dimana ces (perahu klotok atau sampan dengan motor tempel) biasa digunakan, kondisi jalan yang belum tersentuh asphalt dan lingkungannya yang terlihat hijo royo-royo lewat photo udara yang sering saya lihat.

Dan kini, saya berkesempatan untuk menyaksikannya secara langsung... Secara langsung! After 4 years. Siapa yang nggak jadi excited? Tentu saja saya langsung semangat banget. Semangat ingin melihat seperti apa orang-orang yang katanya suku Dayak Whe Hea itu. Orang-orang yang menurut laporan selama ini, masih memegang adat istiadat secara teguh turun temurun.

Yang ada dalam benak saya semula adalah orang-orang dayak yang masih terbelakang. Hutan Kalimantan yang katanya nyamuk-nyamuknya masih sering membuat orang kena Malaria. Belum lagi ular dan penghuni hutan lain yang ada dalam benak yang membuat saya sedikit merasa khawatir. Juga lekat dalam benak saya tentang keharusan bersikap hati-hati menghadapi mereka. Kekhawatiran yang muncul karena kasus-kasus yang terjadi di Sampang, dimana orang suku Dayak bentrok dengan orang Madura, yang membuat benak saya dipenuhi kekhawatiran tentang orang Dayak, juga selentingan kabar tentang kehidupan mereka yang masih dipenuhi unsur-unsur magic seperti jampi-jampi dan lain sebagainya.

3 Agustus saya dan beberapa rekan terbang dengan 737-900ER milik Lion Air yang masih gress. Sedikit banyak ini mengurangi sedikit ketegangan saya, yang sehari sebelumnya --sialnya, secara nggak sengaja mendengarkan rekaman 'Black Box Adam Air' yang membuat bulu kuduk saya bergidik. Siapa yang nggak ngeri, besoknya mo terbang malah ngedengerin 'saat-saat menegangkan' jatuhnya pesawat Adam Air (almarhum). Ya jelas saya takut. Takut sekali. Bahkan sebenarnya tanpa 'rekaman Adam Air' pun ketakutan saya memang sudah poll! Ya, saya memang takut naik pewawat. Itu yang setidaknya membuat saya tidak terlalu ngoyo minta ditugaskan ke lapangan, takut terbang!!!

Tapi Alhamdulillah, akhirnya burung besi itu mendarat mulus (semulus para cabin crew-nya, hehehe...) di Sepinggan. Dan dimulailah perjalanan panjang yang melelahkan sepanjang Balikpapan - Samarinda - Bontang - Sengatta - Muara Wahau sampai finish di Ben Heas. Dari Balikpapan ke Samarinda menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan plus makan2 di Tahu Sumedang (nggak nyangka, ternyata di bumi Kalimantan Timur ini masakan jawa barat ini begitu terkenal). Tiba di Samarinda tim memutuskan istirahat dan menginap. Jalan malam sebentar muter-muter coba salah satu kafe, akhirnya kembali ke hotel sudah larut.

Besoknya muter-muter lagi di Samarinda cari beberapa keperluan untuk site office. Nyoba-nyoba makanan lokal yang katanya sayang untuk dilewatkan... Akhirnya saya putuskan coba... Ikan Patin bakar. Hahahahaha.... Barangkali emang saya yang terlalu naif, tapi sejujurnya, baru kali itu saya coba yang namanya Ikan Patin. Wihhhh, wueeenak tenaannn :):):)

Akhirnya, baru sore hari tim berangkat direct ke Sangatta. Jalan masih lumayan oke lepas dari Samarinda menuju simpang Bontang. Tapi selepas simpang Bontang, sudah malam lagi, dan jalanan mulai tidak bersahabat. Rusak parah. Untung kami mengendarai Ford Ranger 4x4, jadi sedikit banyak tertolong oleh ketangguhan si Ranger ini. Barangkali karena pengalaman pertama, rasanya ini jalan panjaaang banget nggak ada habisnya. Mana pengalaman pertama pula bawa Ford Ranger, jadinya agak lelet. Hehehe, takut aja mobil kantor lecet..

Akhirnya sampai juga di Sangatta jam 12 tengah malem. Tanggal 5 Agustus. Halaaah, mundar-mandir sampe ngabisin seharian. Tapi its ok lah. Seru.. seru.. Jalur simpang Bontang - Sangatta bener2 mantabh. Nanjak.. turun.. lobang-lobang segede kubangan sapi.. tanah lumpur.. jalan amblas, semuanya jadi pengalaman berharga betapa serunya kerja di lapangan, dibanding selama ini di belakang meja, atau jalan di Jakarta yang rata-rata mulus.. lus.. lus! Alhasil lama juga sampe Sangatta. Sampe sana udah jam tidur lagi. Mata dan badan udah nagih untuk istirahat. Tapi otak nolak buat nginep. Akhirnya mutusin brenti buat ngopi-ngopi sekedar ganjel mata biar nggak rapet. Jam 2 dini hari mutusin jalan lagi. Terusssss.. terusss.. dan terusss... rasanya waktu nggak ada habis. Sampe simpang bengalon udah mau subuh lagi. Mata makin ngantuk tak tertahankan. Berhenti di pinggir jalan dan tidur pulalah kita. Bangun 1-2 jam kemudian, akhirnya jalan lagi. Badan udah berasa rontok nggak keruan. Subuh hingga menjelang matahari muncul, saya jalan lagi menikmati asyiknya perjalanan lika-liku dan naik turun. Menikmati titik-titik bintang yang disini terlihat lebih jelas karena langit nggak kena distorsi cahaya. Akhirnya hampir 1 jam nyetir, saya juga mulai ngantuk lagi. Gantian nyupir. Dan terus bablas sampai tiba di kecamatan Muara Wahau. Sampai disini matahari mulai tinggi lagi. Panasnya tak terkatakan lagi. Muaateng, deh pokoknya! Dan, akhirnya 1 jam kemudian sampai lah Ranger ini di site office. Jalan poros atau biasa disebut jalan logging membentang sepanjang 12 km dengan kondisi yang basah bekas hujan, menyebabkan mobil berjalan hati-hati agar tidak amblas. Tanah merah, jack! Dicampur air hujan kondisi lebat, jadilah bubur lumpur merah yang kalau nggak hati-hati bisa bikin ban selip. Meski pakai 4x4, tetep aja harus ekstra hati-hati supaya nggak keluar jalur. Lagi-lagi... rasanya nikmat banget. Seru.. seru.. seru... Hmmm, pantas ada sebagian orang yang suka dengan Off road.

Akhirnya, sampai di pintu mess pukul 12 tengah hari tanggal 5. Huuuh, entah saya dan teman yang terlalu lelet atau memang perjalanan yang cukup panjang. Yang jelas, judul akhirnya cuma satu... Cuaaapek!!! Sampai di mess, selepas sambutan ala kadar yang cukup hangat dari teman, saya segera mandi dan ... tidur!

Muara Wahau, here I am...